Senin, 11 Januari 2016

Sejak pengelolaan beasiswa oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berjalan, kesempatan untuk mendapatkan beasiswa master maupun doktoral terbuka untuk semua kalangan. Hingga kuartal I 2015, total penerima beasiswa LPDP sudah mencapai 6.800 orang. Salah satu poin yang unik dari beasiswa ini adalah tidak adanya ikatan kerja setelah kelulusan penerima beasiswa dan hanya diikat oleh klausul “kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi” pada kontrak. Kondisi yang cukup “fleksibel” ini menjadi daya tarik tersendiri, terbukti dari jumlah pelamar dan penerima beasiswa yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini pun sejalan dengan target awal LPDP untuk meningkatkan rasio lulusan pendidikan master dan doktoral terhadap jumlah penduduk, dimana Indonesia sendiri masih tertinggal dengan negara tetangga di kawasan ASEAN, seperti Singapura dan Malaysia.
Jika target kuantitas telah terpenuhi, maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana memaksimalkan potensi sumber daya manusia tersebut sesuai dengan kapasitas dan keahlian mereka, sesuai dengan roadmap jangka panjang pembangunan negara. Namun tujuan di atas bukanlah hal yang mudah, mengingat belum adanya arahan khusus dari pemerintah mengenai keahlian apa yang dibutuhkan untuk menunjang rencana jangka panjang tersebut. Hal ini diperparah pula dengan kenyataan bahwa rata-rata keputusan seseorang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang master maupun doktoral didasarkan pada personal intererst, yang dapat dirangkum menjadi tiga paradigma umum, yaitu:
  1. Keinginan untuk menekuni dunia akademik baik sebagai peneliti maupun dosen pengajar
  2. Terbukanya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan tingkat sarjana ketika proses seleksi pekerjaan belum selesai ataupun belum mendapat panggilan kerja
  3. Keinginan untuk menaikkan daya saing personal (bagi yang sudah bekerja) dalam menghadapi kompetisi kenaikan jabatan di dunia kerja dimana jenjang pendidikan merupakan salah satu faktor pertimbangan yang penting
Ketiga paradigma di atas memiliki nilai positif dan negatifnya masing-masing. Poin pertama memiliki tingkat linearitas keilmuan yang paling tinggi dibandingkan poin lainnya. Namun perlu diingat jika kebutuhan posisi dosen pengajar, peneliti, ataupun jumlah universitas yang ada lebih sedikit dibandingkan penambahan jumlah lulusan S2 maupun S3, maka akan terjadi kondisi oversupply yang dapat berakibat negatif terhadap career pathdi dunia akademik dan lembaga penelitian. Poin kedua berada pada posisi yang cukup riskan, mengingat penerima beasiswa seperti ini dapat “terjerumus” untuk terjun ke dunia akademik tanpa direncanakan maupun mencoba untuk bersaing mendapatkan pekerjaan dengan lulusan sarjana karena sama-sama belum memiliki pengalaman kerja. Poin nomor tiga memiliki risiko yang tergolong paling rendah mengingat mereka sudah memiliki pengalaman kerja dan sudah lebih mengetahui kondisi pasar yang ada.
Berdasarkan paparan di atas, sudah siapkah pasar kerja di Indonesia menyerap seluruh potensi-potensi di atas? Mampukah kita keluar dari paradigma di atas dan mulai merambah pemanfaatan expertise yang sesuai dengan studi yang diambil para penerima beasiswa? Tulisan ini akan memberikan ulasan singkat terkait ekspektasi pasar kerja terhadap lulusan S2 dan S3 (di luar dunia akademik dan lembaga penelitian) dari beberapa petinggi instansi-instansi yang berpengaruh di Indonesia, seputar apakah mereka tertarik untuk merekrut lulusan minimal S2 dan posisi apakah yang cocok dengan kualifikasi pendidikan tersebut.

Daftar Pustaka
Utomo. 2012. Pasar kerja lulusan SI di Indonesia
http://matagaruda.co.id/read/43/ekspektasi-dunia-kerja-indonesia-terhadap-lulusan-pendidikan-tinggi-s2-dan-s3

Posted on Senin, Januari 11, 2016 by Unknown

No comments



• Berdasarkan definisi, sistem analis adalah orang yang bertugas untuk menganalisis sistem termasuk permasalahan yang terjadi beserta pemecahannya dan kebutuhan pengguna, sistem analis harus ahli tidak hanya tentang teknologi komputer tetapi juga tentang bisnis. Sistem analis merupakan perencana program ynag akan dibuat oleh programmer. Sedangkan programmer adalah orang yang membuat / menuliskannya ke dalam bahasa pemrograman yang telah dibuat rancangannya oleh sistem analis, programmer tentunya harus ahli di bidang teknologi komputer.

• Berdasarkan tugas dan tanggung jawab, sistem analis bertanggung jawab atas sistem secara keseluruhan, jadi tidak hanya pembuatan program komputer (teknologi komputer) melainkan aplikasinya juga, sedangkan pembuatan program yng menjadi tugas sistem analisis ini meliputi pemecahan masalah secara garis besar, dan sistem analisis ini berhubungan dengan banyak orang, jadi harus memiliki softskill yang bagus juga. Sedangkan programmer hanya bertangung jawab pada pembuatan program, tugas programmer sifatnya teknis, dan harus tepat dalam pembuatan instruksi-instruksi program, jadi tidak langsung berhubungan dengan pengguna, programmer hanya berhubungan dengan sesama programmer dan sistem analis. Pengetahuan yang harus dikuasai oleh programmer terbatas pada teknologi, sistem komputer, utilitas, dan tentunya bahasa-bahasa pemograman.

• Berdasarkan pengetahuan yang harus dikuasai, sistem analis harus ahli tentang teknik pengolahan data, teknologi komputer dan pemograman komputer. Selain itu, pengetahuan bisnis pun harus dikuasai diantaranya agar berkomunikasi dengan pemakai sistem, metode kuantitatif seperti linier programming, dynamic programming,regresion, network, decision tree, trend, simulasi untuk membangun model aplikasi. Sistem analis juga harus mampu memecahkan permasalahna yang komleks menjadi kecil, mampu berkomunikasi dan membina hubungan denagan baik dan yang tak kalah pentingnya sistem analis harus memahami metodologi pengembangan sistem informasi. Sedangkan programmer tentunya harus ahli dalam membuat program, memahami bahasa pemrograman dan dapat mengimplementasikannya pada proyek yang akan dibuat




Daftar Pustaka

singaparna. 2010. Analisis Pemrograman

https://natnitnutnot.wordpress.com/2010/05/04/perbedaan-antara-sistem-analis-dan-programmer/

Posted on Senin, Januari 11, 2016 by Unknown

No comments



Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia Rudi Rusdiah mengatakan penetrasi PC di pasar Indonesia masih di bawah 20 persen.

kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi perkembangan penjualan PC masih prospektif. "Pasarnya masih terbuka luas," ujarnya dalam sambutan pembukaan pameran Indocomtech 2014 di Jakarta Convention Center, Rabu, 29 Oktober 2014. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pasar smartphone yang penetrasinya sudah mencapai 100 persen.



Rudi mengatakan pertumbuhan penjualan gadget dan smartphone tahun ini mencapai 60,8 juta unit per tahun atau sebesar 33,1 persen. Sementara pertumbuhan pasar PC per tahun mencapai 8,6 juta atau sebesar 6 persen.


"Kondisi itu menunjukkan pasar PC tidak mengalami penurunan," ujarnya. Ia menambahkan, bahwa industri teknologi informatika mengalami transformasi menuju solution provider.




Daftar Pustaka

Sudarsono 2010, Pasar Komputer di Indonesia

http://tekno.tempo.co/read/news/2014/10/29/072618027/pasar-komputer-indonesia-masih-terbuka-luas

Posted on Senin, Januari 11, 2016 by Unknown

No comments

Perkembangan Software di indonesia beserta perangkatnya berkembang sangat pesat. Ini ditandai dengan semakin banyaknya para pembuat software. Tidak hanya untuk keperluan bisnis, untuk keperluan pembelajaran juga tidak kalah pesatnya.
Pada awal perkembangannya, software pendidikan lebih didominasi oleh software dalam bentuk tutoriall misalnya tutorial belajar Windows XP, tutorial belajar MS Word dll.
Satu bulan yang lalu saya juga ditanya salah seorang guru dari Kalimantan, ia menanyakan bisa tdk mengusahakan software tutorial belajar gitar ?
ini membuktikan bahwa segala disiplin ilmu orang menghendaki segalanya menjadi praktis, sehingga untuk mempelajarinya tidak terkendala waktu dan jika ingin mengulang – ulang bahasan tertentu tinggal menjalankan lagi software tersebut.
Dalam perkembang berikutnya, kini juga sudah mulai dikembangkan software pendidikan yang berfungsi untuk membantu proses belajar mengajar, mulai dari system penerimaan siswa, penjadwalan mata pelajaran, system pembuatan nilai dll.
Beberapa contoh produk software pendidikan yang ada di Indonesia :
• Pesona Fisika dan Pesona Matematika untuk SMP, SMA dari Kuantum Inti Dinamika
• Software EduGames Maximize Studio untuk tingkat SD
• Software Anak Cerdas dari Akal Interaktif
• Software Tutorial Komputer dari BambooMedia, dll
• PT Elex Media Komputindo (EMK) untuk prasekolah, TK dan SD
• PT Citra Andra Media (CAM Solution) yang meluncurkan software pendidikan dengan merek AnimasiMAFIA, yang meliputi bahan ajar Matematika, Fisika dan Kimia
• Acatech, ia adalah pemain baru didunia software pendidikan, namun tampil dengan konsep baru. Ia menyediakan software untuk membantu proses belajar mengajar untuk SD, SMP dan SMU, menyediakan 15 modul.
Seiring dengan perkembangan tersebut diatas, mau atau tidak mau era kompetisi kualitas pendidikan semakin ketat, semakin kita menjauhi, maka kita akan semakin tertinggal.
Penerapan teknologi tidak harus selalu menjadi “barang mewah” untuk sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya sekolah yang minim dari segi pengadaan biaya. Turning Point-nya adalah bagaimana menciptakan rekayasa teknologi yang tepat guna dan tidak mahal.
Yang menjadi pertanyaan adalah, seberapa siapkah kita menghadapi persaingan, dan keluar menjadi salah satu pemenang ? hanya anda yang tahu.


Daftar Pustaka
Setio Budi Cahyono 2008 Perkembangan Softwere di Indones
https://andipoe.wordpress.com/2008/06/29/perkembangan-software-di-indonesia/

Posted on Senin, Januari 11, 2016 by Unknown

No comments

Saat-saat yang masih dipenuhi dengan berbagai kemungkinan itu merupakan momen yang menjadi tonggak mulai masuknya komputer, yang menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat di Tanah Air.
Jika diurutkan, sejarah penggunaan komputer di Indonesia terbagi dalam empat era, antara lain : era 1960-an yang menjadi awal atau mulai dibuka-nya pintu gerbang komputer masuk ke Indonesia, lalu yang kedua adalah era 1980-an yang merupakan masa-masa perkenalan dan pemahaman akan dunia komputer. Lalu berikutnya adalah era 1990-an yang merupakan masa-masa pengembangan, dan yang terakhir adalah era di awal-awal tahun 2000-an yang telah jauh lebih modern dan ditandai dengan fakta bahwa komputer sudah menjadi ‘barang umum’ bagi masyarakat Indonesia.
Seandainya keempat era tersebut tidak pernah dilalui, mungkin bangsa kita tidak akan pernah mengenal yang nama-nya komputer seperti saat ini. Karena itulah untuk memahaminya lebih jauh, berikut ini kami uraikan bagaimana sejarah perkembangan komputer yang terjadi di Indonesia, termasuk beberapa momen yang menjadi elemen penting dalam perjalanannya dari tahun ke tahun

Posted on Senin, Januari 11, 2016 by Unknown

No comments